Dalam sastra diketemukan syair, disana akan berhadapan juga dengan berbagai bentuk tulisan yang lebih kentara menunjukkan sisi perasaan, apapun bentuk style yang dipergunakan. Saya melihat sastra seperti itu. Dan sengaja 'sedikit' keluar dari mainstream dan definisi yang selama ini ada dalam berbagai literatur tentang sastra. Karena, saya tergolong salah satu dari manusia pecinta sastra yang tidak terlalu menyukai untuk menerima teori ataupun definisi dari orang lain. Boleh saja jika keyakinan saya ini disebut sebagai bentuk dari egoisme intelektualitas, dan sama sekali saya disini tidak berkehendak untuk disebut sebagai sosok yang inovatif.Baik, saya melihat selama ini, baik di media cetak sampai juga di media semisal internet. Begitu banyak orang yang mencoba berkecimpung di ranah sastra. Baik mereka melakukannya dalam bentuk puisi, pantun sampai ke essay.
Disini, saya pribadi lebih menyukai bergelut dengan puisi. Walaupun hanya beberapa yang telah dimuat di media cetak, tetapi saya berpikir bahwa itu sudah menjadi sebuah bagian tanggung jawab saya juga untuk sedikit berpikir tentang sastra. Sastra, dunia tersebut memberi ruang cukup luas untuk manusia mengeksplorasi jiwanya, menyelami hatinya dan melihat hidup secara kontemplatif. Dari sana, jika sastra disebut sebagai sebuah lautan yang menyimpan mutiara. Maka khusus untuk sastra, saya berpandangan tidak akan ada yang bisa temukan mutiara itu tanpa menyelami lautan itu. Dan seperti itu saya melihat persoalan penting tidaknya sastra bagi manusia




