21 Oktober 2009

Pentingkah Sastra?

Dalam sastra diketemukan syair, disana akan berhadapan juga dengan berbagai bentuk tulisan yang lebih kentara menunjukkan sisi perasaan, apapun bentuk style yang dipergunakan. Saya melihat sastra seperti itu. Dan sengaja 'sedikit' keluar dari mainstream dan definisi yang selama ini ada dalam berbagai literatur tentang sastra. Karena, saya tergolong salah satu dari manusia pecinta sastra yang tidak terlalu menyukai untuk menerima teori ataupun definisi dari orang lain. Boleh saja jika keyakinan saya ini disebut sebagai bentuk dari egoisme intelektualitas, dan sama sekali saya disini tidak berkehendak untuk disebut sebagai sosok yang inovatif.

Baik, saya melihat selama ini, baik di media cetak sampai juga di media semisal internet. Begitu banyak orang yang mencoba berkecimpung di ranah sastra. Baik mereka melakukannya dalam bentuk puisi, pantun sampai ke essay.

Disini, saya pribadi lebih menyukai bergelut dengan puisi. Walaupun hanya beberapa yang telah dimuat di media cetak, tetapi saya berpikir bahwa itu sudah menjadi sebuah bagian tanggung jawab saya juga untuk sedikit berpikir tentang sastra. Sastra, dunia tersebut memberi ruang cukup luas untuk manusia mengeksplorasi jiwanya, menyelami hatinya dan melihat hidup secara kontemplatif. Dari sana, jika sastra disebut sebagai sebuah lautan yang menyimpan mutiara. Maka khusus untuk sastra, saya berpandangan tidak akan ada yang bisa temukan mutiara itu tanpa menyelami lautan itu. Dan seperti itu saya melihat persoalan penting tidaknya sastra bagi manusia

17 Agustus 2009

Merdekakan (ulang) Indonesia


Merdekakan (ulang) Indonesia

Oleh: Zulfikar Akbar

(Harian Aceh, 17 Agustus 2009)

Tidak untuk menyepelekan ikhtiar Pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup bangsa, dalam membangun tanah pertiwi dan dalam menjalankan roda negeri ini. Hanya saja, terlalu banyak indikator yang menunjukkan bahwa Indonesia memang belum sepenuhnya merdeka.

Indikator bisa berupa angka kemiskinan yang masih belum turun semestinya. Pengangguran masih merebak. Kriminalitas yang menjadi buah dari kondisi tersebut juga semakin meningkat. Aceh saja, nyaris setiap harinya mengisi halaman-halaman koran dengan reportase kriminalitas. Lantas, apakah kemudian kita akan memilih untuk melulu melemparkan tuduhan bahwa pemerintah telah dengan sendirinya menjadi aktor utama, terdakwa atas segala ketimpangan yang idealnya tidak terjadi ini? Satu sisi dengan amanat UU terhadap pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya, mungkin disini memang pemerintah didudukkan di kursi 'pesakitan' itu. Tapi saling lempar kesalahan seperti itu saya kira bukanlah sebuah pilihan bijak. Mengingat, dari beberapa rezim yang telah berlangsung di negeri ini tidak pernah sepi dengan 'metode' saling lempar kesalahan, namun tidak berhasil menjadikan negeri menjadi lebih baik. Hanya saja, saya berpikir, perlu untuk ditumbuhkan satu spirit yang lebih positif. Tidak saling jegal karena merasa telah mencapai tangga intelektualitas yang lebih baik dari umumnya masyarakat Indonesia lainnya yang memang masih banyak yang tidak memiliki pendidikan. Hanya saja, kinerja nyata dan proaktif, plus sinergi yang lebih mampu untuk menggugah selera membangun dan berlari bersama, ini yang penting untuk semakin ditumbuhkan.

Indonesia harus dimerdekakan ulang. Tapi tidak lagi secara physically barangkali. Dalam arti tidak perlu lagi harus mengadu fisik dan mengangkat senjata dan kembali bersimbah darah. Tapi pada mindset, pada mainstream.

Menyimak, yang kentara muncul ke permukaan khususnya akhir-akhir ini bukanlah upaya serius untuk melongok persoalan rakyat yang masih tidak sedikit yang untuk makan siang saja kesulitan. Namun lebih mencerminkan dahaga pada gengsi, haus pada kekuasaan dan kengerian dalam menerima kekalahan. Tingkat elit terlihat lebih banyak saling tendang, memaksa ejakulasi dengan retorika yang entah mereka kira lebih dibutuhkan masyarakat negeri ini?

Cobalah untuk berpaling sejenak dari keserakahan itu. Sekarang, coba lihat lebih jernih pada data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penganggur pada Februari 2008 telah tercatat sebesar 9,43 juta orang. Sementara jumlah angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2008 mencapai 111,48 juta orang. Dan jumlah penduduk yang bekerja di pada Februari 2008 sebanyak 102,05 juta orang. Ini potret 2008, 2009 bagaimana? Apakah sudah ketemu sebuah alasan yang cukup terang berhubungan dengan hasil kerja pemerintah yang lebih baik, sehingga angka itu lebih turun. Persoalan itu lebih terjawab? Saya yakin belum ada yang berani tunjukkannya. Karena, hari ini Indonesia seperti belum sah disebut Indonesia jika angka kemiskinan tidak 'betah' seperti angka diatas.

Untuk itu, Indonesia butuh untuk di merdekakan ulang. Dimerdekakan dari kemiskinan, dibebaskan dari kolonialis yang mengaku nasionalis. Ini yang seharusnya lebih ditunjukkan. Menyimak ini, saya jadi teringat saat sedang melakukan observasi ke sebuah desa pedalaman di Kecamatan Woyla Timur, Aceh Barat setahun lalu. "untuk jalan menuju ke desa kami saja belum ada jalan yang memadai, apa bedanya sekarang dengan dulu. Kami bahkan hampir tidak yakin kalau Belanda sudah tidak ada lagi di negeri ini."

Nah, Agustus yang seyogyanya menjadi bulan yang sangat sakral di pelaminan bernama Indonesia ini, seharusnya tidak diluputkan dari refleksi atas kondisi nyata yang masih terjadi dan masih menjadi virus yang tak kalah kuasa membunuh anak-anak negeri ini dibandingkan H1N1 ataupu HIV. Cita-cita untukmengurangi angka kemiskinan, sepertinya sudah tidak saatnya lagi dijadikan sebagai sebuah dagangan sekedar untuk bisa menghipnotis bangsa yang memang belum seluruhnya 'tercerdaskan'. Karena, kemiskinan membuat mereka 'alergi' dengan yang namanya sekolah. Ketika sebuah bangsa alergi dengan pendidikan, tentu tidak akan pernah bisa diharap untuk bisa cerdas; selain mengandalkan insting daripada akal yang menjadi kelebihan mereka sebagai manusia.

Merdekakan lagi negeri ini dengan kemerdekaan yang sebenar-benarnya.Sebuah kemerdekaan yang tidak perlu lagi dengan proklamasi yang terlalu di agung-agungkan, tetapi dengan jawaban tegas yang langsung mengarah ke jantung kemiskinan. Sehingga, saat sedang menghentikan kendaraan di traffic light, kita tidak harus menahan sesak lagi menatap wajah-wajah dekil pengemis yang selama ini menjadi 'billboard' yang mengpromosikan bahwa kita belum sebenarnya merdeka. Dan, kemiskinan masih menjadi sebuah persoalan yang menuntut jawaban sigap dan cepat. Atau, kelak pemerintahan sekarang pun akan kembali menjadi objek kutukan rakyat.

Guyon Panjat Pinang


Berawal dari guyon tentang apa makna yang bisa dipetik dari setiap peringatan agustusan. Spontak saja saya tergelitik untuk menjawab, bahwa wajar jika bangsa kita kesulitan untuk bisa sampai pada posisi lebih baik dalam kaitannya dengan kesejahteraan. Terlalu banyak oli yang dioleskan pada setiap batang pinang. Karena pikiran lugu saya membuat saya terangsang uuntuk mengkaitkan 17 Agustus dengan kegiatan panjat pinang. Terbayang juga dengan oli yang mengolesi batang pinang tersebut yang sering membuat orang yang mencoba ikut dalam kegiatan tersebut harus terjatuh.

Walaupun dari sudut lebih serius, sebenarnya disana terketemukan sebuah spirit juga, bahwa yang namanya rakyat kecil tidak pernah mengenal kata lelah untuk juga bisa tiba dipuncak. Puncak yang memberikan banyak 'hadiah'. Cuman, ketika teringat lagi, kenapa kegiatan tersebut nyaris tidak pernah diikut oleh mereka yang sekrang beruntung menjadi bagian dari masyarakat menengah keatas. Apakah mereke merasa tidak pantas untuk bisa membayur dengan rakyat yang berlatar belakang sosial lebih rendah dari mereka atau karena apa?


Saya perhatikan, memang ada banyak sekali makna yang bisa dilihat dari beragam kegiatan yang mengisi perigatan 17 Agustus ini. Dari berbagai latar belakang masyarakat, nyaris semua terlihat begitu antusias mengikuti semua ragam kegiatan itu. Terlihat semangat dari wajah-wajah mereka. Namun saya pribadi tetap saja lebih tertarik dengan kegiatan panjat pinang. Sebuah kegiatan yang memang menuntut adanya semangat kebersamaan tinggi dari pesertanya. Kesediaan untuk berkorban.

Setiap peserta tidak mungkin untuk bisa mencapai hadiah yang biasa ditempatkan diujung pinang jika hanya mengandalkan diri sendiri. Cuma, entah kenapa timbul kecurigaan di benak saya, selama ini sepertinya ada yang salah dri semua itu, sepertinya pelajaran yang banyak diambil dari kegiatan yang selalau mengisi kegiatan ulang tahun kemerdekaan negeri tersebut, hanya berkisar pada bagaimana untuk bisa mencapai tujuan tanpa harus terlalu peduli harus menginjak siapa. Maka pemerintah negeri ini suka menginjak, politikus juga doyan menginjak, sampai rakyat kecil untuk nonoton sebuah konser saja tidak segan-segan menginjak. Untuk hal ini sepertinya tidak pantas memang menyalahkan kegiatan panjat pinang itu.

Mengeringkan Lautan

Pada lain kesempatan, disebuah tempat pangkas di Kota Jeuram, salah satu kota kecil di Nagan Raya, Aceh. Seorang haji sedang berbicara dengan seorang pemuda. Dalam obrolan itu, sebuah cerita muncul: Pada jaman dulu. Seorang pemuda sangat terobsesi untuk bisa mendapatkan sebutir mutiara. Yang melatarinya untuk bisa menemukan mutiara karena ia tinggal kebetulan didaerah pesisir pantai. Sedangkan benda yang paling berharga ketika itu adalah mutiara. Seseorang bisa disebut kaya raya jika ia memiliki mutiara. Ketika menemukan keadaan keluarganya yang sangat miskin.

Maka, kemudian ia bertekad untuk bisa merubah nasib keluarganya. Jalan yang ia lakukan adalah mengambil salah satu kulit kerang. Lantas, pemuda ini melakukan sebuah pekerjaan yang ‘konyol’. Ia mencoba untuk mengeringkan air laut.

Hari ke hari, jin penguasa lautan itu merasa heran melihat semua yang dilakukan pemuda ini. Lantas terbetik inginnya untuk menanyakan kepada pemuda ini

“Anak muda, saya perhatikan beberapa hari ini engkau begitu gigih untuk mengambil air dari lautan dan melemparnya ke daratan. Untuk apa?”

Dengan ekspresi seolah tidak merasa perlu untuk memperhatikan orang yang bertanya padanya,”hm, iya saya sedang mencoba untuk mengeringkan lautan ini.”

Sejurus kemudian, jin Penguasa Laut tersebut tercenung berpikir, jika lautan ini dikeringkannya. Sangat kasihan keadaan penghuni lautan ini. Ikan-ikan semua akan mati dan tidak ada tempat untuknya hidup. Tidak lama Jin tersebut kembali bertanya,”kenapa engkau inginkan untuk mengeringkan lautan ini wahai anak muda?”

Acuh tak acuh pemuda itu menjawab,”saya tahu didalam lautan ini terdapat salah satu jenis penghuninya yang memiliki mutiara. Untuk mendapatkan itu, saya terpikir mengeringkannya saja”

Setelah merasa jelas duduk perkara yang menjadi alasan pemuda itu.

“Baiklah, tolong untuk jangan engkau teruskan mengeringkan lautan ini. Karena saya sebagai penguasa laut ini tidak ingin rakyat saya mati karena ketiadaan air. Biar saya penuhi permintaanmu anak muda”

Tidak lama, Penguasa Lautan tersebut memanggil salah satu binatang yang memiliki mutiara dimaksud dan memenuhi permintaan pemuda ini.

HARMONI

Di salah satu kota yang pernah saya datangi. Saya berkesempatan untuk mengenal seorang tokoh masyarakat disana. Di kota ini, tokoh tersebut lumayan terpandang dengan beberapa catatan keberhasilannya. Baik dalam kapasitasnya sbeagai seorang tokoh masyarakat, juga sebagai seorang ayah dalam mengantarkan anak-anaknya dalam kesuksesan.


Beberapa diskusi di berbagai kesempatan terjadi antara saya dengan beliau. Termasuk bagaimana caranya hingga ia bisa menciptakan sebuah iklim kesuksesan ditengah keluarga secara cukup apik dan memang layak untuk mengundang decak kagum. Rata-rata anaknya bisa beroleh karir yang menjanjikan. Memiliki berbagai macam fasilitas hidup cukup bergengsi. Dari sudut kesejahteraan, keluarga ini terbilang lumayan sejahtera dibandingkan dengan umumnya masyarakat di Indonesia. Saya sendiri sempat melamunkan keadaan seperti ini sebagai sebentuk sorga yang mewujud di bumi.


Hanya saja, saya merasakan ada sesuatu yang saya rasakan sangat mengganjal. Cara. Cara tokoh ini untuk mewujudkan semua ‘kesuksesan’ itu ditengah keluarganya. Cerita punya ceita, sang tokoh ini bisa dapatkan ini dengan 2 pilihan ‘cerdas’:

1. Menghalalkan suap
2. Menjilat pejabat-pejabat
3. Menjadikan agama hanya sebagai media relasi dengan Tuhan saja
4. Memutuskan rantai agama dalam relasi dengan manusia
5. Tidak menjadikan agama sebagai sesuatu yang harus terlalu diagungkan
6. Memandang pencapaian kesuksesan secara materiil sebagai satu-satunya indikator kesuksesan
7. Memlihara perasaan superioritas.



Saya yang dengan rekan-rekan yang seirng menjadikan persoalan tentang prinsip sebagai bahan diskusi turut mengangguk semua itu sebagai prinsip. Hanya saja, terlihat harus ada ketegasan dalam melihat hal itu sebagai prinsip seperti apa. Hingga saya terhantar pada kesimpulan. Oh, ternyata prinsip itu tidak hanya yang beraroma positif juga toh. Masih ada bagian lain dari prinsip, ada prinsip yang juga sarat dengan kekejian, culas dan pengecut. Seperti seorang pendekar yang menggunakan gada yang terlalu besar untuk menaklukkan lawan lemah, tidak bergizi dan tanpa senjata. Berlebihan. Iya, saya melihat apa yang ada dibalik pori-pori tokoh yang saya ceritakan ini sebagai sebentuk kepengecutan yang cukup tegas, jelas dan tidak perlu dibantah.



Beberapa tahun kemudian, saya menemukan sebuah kondisi kontradiktif. Salah satu anaknya harus mendekam di balik jeruji besi. Yang lainnya malah diuber oleh hutang ketika karir yang sedang ia tapaki membuat kita sulit untuk mempercayai, ia bisa berhutang juga.



Sebelumnya, tokoh ini sering mengatakan pada saya, untuk hidup itu dibutuhkan harmoni, adanya keselarasan, keseiramaan dengan segala yang eksis di tengah semua percaturan di dunia ini. Ternyata, saya perhatikan ada kekeliruan dalam menafsirkan harmoni. Harmoni lebih dipandang mengikuti semua yang berkembang tanpa perlu mengikutsertakan nurani. Selanjutnya, seperti berbicara pada diri sendiri, saya mengatakan; “wajar beliau merasakan musibah beruntun seperti itu.”